Pengendara Motor, Hidupkan Lampu Motor Anda Siang-malam

Saya tinggal di Wonogiri, sebuah kota kecil di propinsi Jawa Tengah. Suatu pagi, tanggal 3 Januari 2011 sekitar pukul 09.30 pagi saya berkendara melewati tengah kota. Di tengah perjalanan saya dihentikan oleh sekelompok polisi yang nampaknya sedang melakukan operasi. Merasa tidak melakukan kesalahan dan membawa dokumen lengkap, dengan santainya saya meminggirkan motor sambil menunjukkan surat-surat kelengkapan. Tak dinyana, STNK saya ditahan dan diberi surat tilang. Dikatakan saya bersalah karena tidak menghidupkan lampu. Baru tau kalo ternyata lampu motor saya dalam keadaan off (biasanya sih, on terus). Wah, gara-gara keponakan saya nih, pikir saya. Pasti tadi malem abis minjem lampu motor dimatikan.

Tak perlu saya ceritakan bagaimana congkak dan judesnyanya si petugas dalam memberikan surat tilang. Pokoknya ga sesuai deh, dengan slogannya sebagai MITRA MASYARAKAT. Singkatnya, saya harus sidang tanggal 6 Januari 2011. Lucunya, pas dateng tanggal 6, berkas surat saya tidak ada. Terpaksa saya harus ke kantor polisi untuk menanyakan kejelasannya. Ternyata si oknum polisi salah nulis tanggal, seharusnya tanggal 20 Januari. Duh…duh…duh….

Saya masih sering melihat pengandara motor yang mengabaikan peraturan tersebut dan tidak mau menyalakan lampu di siang hari. Nah, saya punya 3 alasan mengapa kita harus menyalakan lampu siang-malam:

1. Ada Undang-undang yang mengatur. Karena UU yang menegaskan agar pengendara motor menghidupkan lampu siang-malam sudah dikeluarkan. Sebagai warga yang taat Undang-undang, sudah seyogyanya kita mematuhi peraturan yang ada.

2. Sidang bikin ribet. Ya,  jika kita lalai menyalakan lampu dan terkena tilang, kita harus kehilangan waktu untuk mengikuti sidang. Padahal, belum tentu kita punya waktu luang pada tanggal yang memwajibkan kita mengikuti sidang. Apalagi kalo terjadi kejadian salah tulis seperti pengalaman saya.

3. Uang damai menyuburkan korupsi. Seringkali kita tidak mau ribet untuk urusan sidang dan tetek bengeknya. Mungkin karena kesibukan yang luar biasa atau juga karena takut/malu datang ke pengadilan. Uang damai sering menjadi solusi. Padahal, engan memberikan uang ‘damai’ kepada oknum polisi, secara tidak langsung kita telah menyuburkan korupsi. Ya, karena uang tersebut seharusnya menjadi milik negara, namun diselewengkan. Jika anda sehati dengan semua warga yang menyerukan STOP KORUPSI, jangan membiarkan diri anda terlibat korupsi di jalan.

Nah, teman-teman…ayo, jangan sampai kita menjadi agen korupsi di jalan.

Tinggalkan komentar

Filed under Serba-serbi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s